Tak Berkategori

Tertawamu Bahagiaku

Ketika nanti waktu berbaik hati mempertemukan kita, hal yang paling menjadi inginku adalah melihat tawamu yang lepas atas segala gurauan disela-sela perbincangan. Aku tidak mau melihat tawamu yang malu-malu, yang katamu agar terlihat cantik.

Tetapi bila kita hanya diberikan rasa nyaman dari kejauhan, keinginanku tetaplah sama; tentang tawamu. Ingin tetap mendengar tawa disela-sela kesibukan belajarmu. Disela-sela kesibukan, aku ingin tetap memberi tawa bagimu. Karena, Sayang, bahagia yang kita tunjukkan dengan tertawa bersama menyepertikan kita begitu dekat, dan melupa tentang jarak.

Standar
Tak Berkategori

Mandolin

Sayang, kemarilah, kuajari kamu bagaimana menjadi piawai memainkan mandolin, bagaimana mengeluarkan bunyi merdu membersamai petikan manisnya jemarimu. 

Aku, sejatinya pun tidak dengan sepenuhnya mengerti. Tetapi, kemarilah, Sayang. Duduklah di sampingku dengan nyaman. Kita bertukar pengalaman.

Bahwa ternyata sayang, untuk mendapatkan suara merdu sebuah mandolin, kita harus pandai menyimbangkan dawai.

Dawainya tidak boleh terlalu kencang, sayang. Sebab bila demikian, ia akan putus. Juga jangan teramat kendur, sayang. Sebab jika demikian, ia tidak akan sumbang.

Jadi begitu, sayang. Sebelum kita mulai bermain, ceritakan padaku apa yang kamu ketahui tentang dawai beserta memainkannya.

Bahwa hubungan pun hendaknya didemikiankan, sayang. Kita harus pandai menyimbang.

*gambar dari sini

Standar
Tak Berkategori

Anjangsana


Karenamu, aku menjadi dewasa menyikap rindu. Belajar untuk tidak mempermasalahkan jeda yang kita buat dengan sengaja.

Membiarkan rindu terisi penuh di dada, dan menumpahkannya dikesudahan aktivitas yang menjadi prioritas.

Aku tidak perlu lagi cemas mengistirahatkan penat. Pengertianmu melebihi sandaran apapun yang memberi nyaman.

Pulanglah ke aku bila kamu merindu. Seperti aku yang tidak pernah meragu untuk itu. Sebab kediamanku selalu terbuka, seperti kamu kepadaku.

*gambar dari sini

Standar
Tak Berkategori

Bahagia Tak Buta, Nak.

Nak, jangan pernah menunggu pertolongan dari orang lain selama kamu bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Selama umurmu masih muda, tenagamu pun pastinya masihlah seperti kuda. Jangan mengharapkan untuk diberi, justru sebaliknya, perbanyaklah memberi.

Ketika kamu memberi, jangan mengharapkan kembalian berupa imbalan. Jangan sekali-sekali. Lalukanlah dengan sepenuh hati, ikhlas tanpa meminta balas. Karena dengan kamu memberi, kelak, ketika kamu sedang dalam kepayahan kamu akan diberi. 
Tapi jangan menunggu untuk itu. Biarkan semesta yang menjadi petunjuk. Begitulah cara alam membalas segala kebaikan manusia.

Percayalah bahwa kebaikan selalu membuahkan kebahagiaan. Takutlah pada dirimu sendiri sewaktu enggan berbagi. Karena pada waktu itu kamu sedang berada nyaman dengan keiblisanmu. Kamu sedang dibuatnya seperti kehilangan karena sebagian dari yang kamu punya seperti berkurang ketika berbagi.

Sejatinya, Nak, dengan memberi -apa pun itu, kepada siapa pun dia-, kamu telah memberi kepada dirimu sendiri. Tidak ada yang berkurang, tidak ada yang hilang.

Percayalah, bahagia selalu menahu kepada siapa ia yang akan menuju.

Standar
Tak Berkategori

Mungkin Nanti

Jika kamu bertanya kemana saya akan melangkahkan kaki selanjutnya, saya tidak akan menjawab apa-apa. Saya akan memilih diam. Duduk manis di singgasana ini sampai pada waktunya nanti. Saya masihlah manusia yang payah, perlu merebah sekadar untuk menghalau lelah.

Bila di kemudian hari, kamu bertanya serupa pada mereka yang adalah sahabat terdekat saya, dan lantas mendapat jawaban yang jelas, itu tidak berlaku untuk saya. Saya masihlah manusia dengan kepala yang dipenuhi bimbang.

Tempatmu yang indah itu, yang juga hendak dituju oleh sebagian mereka belumlah menjadi destinasi memukau buatku, (semoga) paling tidak untuk saat ini. Sebab hidup menunjukkan pilihan begitu banyak, saya kerap kebingungan dibuatnya. 

Standar
Tak Berkategori

Be Happy

 

Jika saja bahagia itu bermata; betapa lelahnya ia menunggu perjumpaan kita yang terpisahkan jarak ini, betapa ia akan berontak dengan kita yang berusaha memadukan perbedaan ini.

Jika saja bahagia itu berkaki; betapa lelahnya ia mempertemukan kita yang berjarak sekian kilometer ini, betapa ia akan kecewa dengan kita yang ternyata sangat berbeda ini.

Tetapi betapa bahagia begitu sempurna, ia melampaui keduanya. Tidak terikat oleh jarak, tidak mengindahkan perbedaan. 

Kita melangkah bahagia berdampingan di atas jarak, bertatap mesra di atas jarak, berpegang erat tangan yang penuh perbedaan.


Sumber gambar: weheartit.com

Standar
Tak Berkategori

Queen

​​

Sayang, kelak ketika besar jangan pernah mengeluh kelelahan ihwal belajar; belajar segala sesuatunya. Karena semua sesuatu yang menguntungkan berada dekat dengan lelah sebelumnya. Keberuntungan hanya berjarak sepersekian dari perjuangan.

Tidak ada seorang pun yang tak mengenal lelah, Sayang. Orangtuamu yang adalah guru terbaikmu, pun juga tantemu yang sekadar mengajarimu bagaimana berucap kalimat dengan benar, jangan kauberanggap mereka tidak lelah, ada lelah yang sewaktu-waktu mengintai mereka.

Tetapi apalah definisi lelah dibanding cinta. Lelah tidak memiliki tempat ketika segala sesuatunya kamu lakukan dengan cinta. Mereka mengajarimu segala perihal dengan cinta, mereka mengesampingkan lelah untukmu yang dicinta.

Kupikir mereka akan kebingungan mencari jawaban untuk contoh sosok yang tiada mengenal lelah. Pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri nanti, dengan kesuksesanmu. Bahwa lelah hanya dimiliki orang gampang mengeluh, Sayang. Cintailah usaha, niscaya semua akan mengantarkanmu pada bahagia.

Kamu bisa belajar dari tantemu, pun dari orang-orang di sekitarmu. Jangan pernah takut untuk menimba ilmu di mana pun, di tempat yang meski memisahkan kebahagiaan bersama orang tersayangmu. Terpisah berjarak-jarak. Percayalah, jarak adalah guru yang mengajarkanmu tentang bagaimana berjuang dengan sungguh, bagaimana merindu penuh. Dan betapa sempurna pertemuanmu nanti, karena kamu telah membawa pulang sukses yang mengandung bahagia untuk semua.

Maka Sayang, jangan pernah lelah untuk belajar; segala sesuatunya.

Standar